Sunday, December 28, 2014

Kisah Diangkatnya Nabi Isa As

Unknown     8:28 AM    
Saya coba berbagi ilmu tentang Nabi Isa Al-Mashih a.s terutama saat hari kematian Nabi Allah Isya Al-Mashih a.s menurut Al-Qur’an.

Sebelumnya saya coba mengulas secara singkat tentang kelahiran dan sejarah Nabi Isa a.s. sampai menjadi utusan Allah SWT.

Sepasang suami-istri dari Bani Israel bernama Imran bin Matsan dan istinya Hannah bin Faqudz sudah ber tahun2 berumah tangga namun belum dikaruniai keturunan. Merka selalu bedoa bahkan Hannah bernazar akan menyedekahkan anaknya jika lahir ke Baitul Maqdis ( Majidil Aqsa ) di Palestina. Allah mendengar & mengabulkan doa mereka, maka Hannah istri Imran melahirkan bayi perempuan yang di beri nama Maryam yang artinya “Ibadah” (orang2 Nasarah menyebutnya Maria). Hanna ingat akan nazarnya jika punya anak akan di sedekahkan ke Baitul Maqdis untuk mengabdi. Lalu bayiya di serahkan ke Nabi Zakaria bin Barkhaya yang memang adalah paman Hannah ibu Maryam, untuk kelak Maryam bisa mengabdi di Baitul Maqdis.

Nabi Zakaria bin Barkhaya AS bersama Isya istrinya adalah penjaga mihrab Baitul Maqdis Palestina

Singkatnya, Maryam tumbuh menjadi gadis dewasa dalam asuhan Nabi Zakaria bersama istrinya.

Pada suatu hari Maryam dikejutkan oleh panggilan suara seorang lelaki yang yernyata adalah Malaikat Jibril yang berwujud manuasia sempurna di utus oleh Allah untuk menemui Maryam di Mihrab baitul Maqdis

Kata Jibril : “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu), taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Ali Imran: 42-43).

Sejak itu ia merasa kekuatan dan masa mudanya meninggalkan dirinya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak. Maryam mengetahui, ia akan memikul tanggung jawab besar.

Suatu hari, Zakaria menemukan sesuatu yang asing dan aneh pada diri maryam. Setiap kali Zakaria mengunjungi Maryam dan memasuki Mihrab, ia mendapati disana, telah terhidang makanan yang berlimpah. Padahal, ia merasa yakin tidak ada orang lain yang masuk. Dengan penuh keheranan, Zakaria bertanya. “Hai Maryam, darimana kamu peroleh rezeki ini?”

“Makanan itu dari sisi Allah,” jawab Maryam. “Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.”

Dari kejadian itu, Zakaria merasa Allah telah mengkhususkan Maryam dengan kedudukan yang mulia yang tidak dimiliki orang lain.

Suatu saat, Jibril dengan menjelma sebagai manusia mendatangi Maryam di mihrabnya. Dalam kekagetannya, Maryam bertanya, “Apakah engkau menusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya?. Sambil tersenyum orang itu ( Malaikat Jibril ) menjawab,: “Sesungguhnya aku ini utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS Maryam: 19).

Maryam tetap curiga, kehadiran laki-laki itu, bagaimana pun sangat mencurigakan, apalagi ia hendak memberi anak, sementara Maryan tidak pernah disentuh seorang lelaki pun.

“Bagamana akan ada bagiku seorang anak lelaki, sementara tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina.” (QS Maryam: 20).

“Demikianlah Tuhanmu berfirman,” jawab Jibril. “Hal itu adalah mudah bagiku dan agar dapat kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS Maryam: 21).

Pada suatu hari, Maryam pergi ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa sesuatu akan terjadi hari itu. Kakinya membimbingnya menuju tempat yang dipenuhi pohon kurma. Tempat itu tidak biasa dikunjungi siapapun saking jauhnya.

Di bawah pohon kurma yang tinggi besar, Maryam merasakan sakit pada perutnya. “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam: 23).

Saya singkat kisahnya, setelah Maryam melahirkan sendirian dibawah pohon kurma yang tinggi, hati Maryam penuh keraguan karena telah melahirkan bayi laki2 tanpa pernah di sentuh oleh seorang lelaki dan akan menjadi fitnah di kalangan Bani Israel.

Ketika keraguan menyelimutinya, tiba-tiba anak yang baru lahir itu ( Isa AS) berkata : “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak untukmu, makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah, sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS Maryam: 24-26).

Ketika tiba saatnya, Maryam kembali ke Baitulmaqdis, waktu menujukkan Ashar. Pasar besar yang terletak di jalan yang dilalui Maryam menuju masjid di penuhi banyak orang. Kehadiran Maryam yang membopong seorang bayi mungil segera menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang di pasar itu. Mereka bertanya kepada Maryam dengan nada sumbang sembari mencibir. “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.” (QS Maryam: 27).

Mereka telah menuduh Maryam telah melakukan pelacuran. Di mata mereka, Maryam telah berbuat nista dan hina. Dengan ketabahan yang tinggi, Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Sementara tangannya menunjuk ke arah Isa. Mereka memahami, Maryam berpuasa dari pembicaraan dan meminta kepada mereka agar bertanya langsung kepada anak itu. “Bagaimana kami akan bicara dengan bayi yang masih dalam ayunan?” (QS Maryam: 29).

Belum selesai mereka mengolok-olok, Isa berkata : “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada Ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku di bangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam: 30-33).

Kisah anak Maryam ( Isa AS.) menjadi bahan pembicaraan di daerah Baitul Lahmin yang oleh orang2 Romawi menyebutnya Kota Betlehem

Sebaliknya, para pendeta Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak Maryam. Kedatangan Almasih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata kepada Allah. Ini berarti menghapus agama Yahudi yang mereka yakini.

Isa tumbuh dalam pemeliharaan Ibunya sebagaimana anak-anak kecil lainnya. Hanya saja Isa, banyak diberi mukjizat oleh Allah. Sejak kecil ia bisa memberi tahu sesama temannya tentang apa yang hendak mereka makan, ia juga mampu mengungkapkan apa yang disimpan orang-orang di rumahnya. Ia juga tampak cerdas.

Suatu hari, ketika mencapai usia 30 tahun, bersama sang ibu, Nabi Isa AS pergi ke Bukit Zaitun – sebuah bukit yang menjadi saksi beberapa peristiwa kenabian. Di sanalah, turun Ruhul Amin (Jibril) menyampaikan Risalah Tuhan kepada Isa. Ia menerima Al-Kitab dari Allah, sebagai kitab yang membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan apa yang dipelajarinya dari kitab tersebut. melalui peristiwa yang amat menggetarkan, Nabi Isa AS menerima wahyu dari Allah SWT berupa kitab suci Injil, sebagai pertanda bahwa ia telah diangkat sebagai Nabi.

Nabi Isa AS. Berkata kepada Maryam : “Ibu, hamba telah di utus oleh Allah ke Bani Israel. Untuk menjalankan tugas ini hamba harus melalui jalan yang penuh perjuangan, penderitaan, dan kesewenang-wenangan.,

Singkatnya, setelah Isa AS. Diangkat oleh Allah mejadi Nabi & Rasul, maka Nabi Isa AS bersama ibunya Maryam melewati hari2nya dengan berda’wah.

Nabi Isa diutus oleh Allah SWT untuk membenahi kaum Bani Israel yang hidupnya sangat kufur. Semua ajaran Nabi Musa AS yang hidup sekian abad sebelumnya dikoyak-koyak dan diputarbalikkan sedemikian rupa, sehingga yang halal menjadi haram, dan yang haram menjadi halal. Kitab suci Taurat yang seharusnya menjadi panutan malah mereka buang jauh-jauh, sehingga perilaku mereka benar-benar keterlaluan. dan oleh karena itu harus dibenahi.

Akan tetapi dasar moral Bani Israel kaum Yahudi sejak zaman Nabi Musa AS yang membebaskan Bani Israel dari kekejaman Fir’aun memang tidak pernah mau menyembah Allah sesuai ajaran Nabi Musa AS di dalam kitab Taurat, kini keturunan Bani Israel pun tidak mau mengikuti ajaran Allah yang dibawa oleh Nabi Isa AS, Bani Israel tetap saja tidak mau percaya. Mereka bahkan menolak dan melancarkan fitnah keji, dengan menuding bahwa bahwa Isa adalah Nabi palsu. Mereka berusaha menjatuhkan waibawa dengan meminta agar Nabi Isa menunjukkan mukjizat di depan umum. Buat Nabi Isa hal itu tentu bukan masalah berat. Dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT, terciptalah seekor burung Merpati yang terbuat dari segumpal tanah.

Pada kesempatan lain, Nabi Isa menunjukkan mukjizat dengan menyembuhkan penderita Kusta, orang yang buta sejak lahir, bahkan menghidupkan orang yang baru saja meninggal. Akibatnya banyak orang berduyun-duyun minta kesembuhan. Namum hal itu tidak membuat mereka percaya kepada Nabi Isa,  bahkan semakin memusuhi. Kaum Yahudi dari Bani Israel mempengaruhi Penguasa Romawi, bahwa Nabi Isa AS berserta pengikutnya akan memberontak dan mau menguasai Romawi.

Nabi Isa AS menyadari adanya fitnah dari ani Israel, maka Nabi Isa berserta ibunya Maryam & muridnya 11 orang yang disebut Kaum Hawariyun meninggalkan Palestina demi keselamatan ummatnya.

Tibalah mereka disebuah padang tandus tidak berpenghuni, terjebak oleh alam, tidak ada sumber makanan dan minuman.

Setelah berhari-hari berada di sana dan kehabisan bahan makanan, mereka pun kelaparan, tapi tidak bisa mencari jalan keluar. Akhirnya mereka menghadap Nabi Isa AS. “Kalau berlama-lama tinggal disini, darimana kita akan mendapat makanan dan minuman, padahal persediaan bahan makanan kita sudah habis, tenaga telah terkuras, sehingga untuk melangkah pun sulit. Apakah tuhan tidak kuasa menurunkan makanan dari langit? Kata salah seorang diantara mereka.

Menyadari keadaan itu Nabi Isa AS tertawa, “Bertakwalah kamu kepada Allah SWT, jika kamu betul-betul orang beriman.” Tapi masalahnya bukan takwa dan iman, melainkan mereka telah terdesak oleh kelaparan. “Jika mukjizat hidangan dari langit itu nyata, kami akan lebih beriman dan bertakwa,” kata mereka serempak.” Maka Nabi Isa pun bermunajat kepada Allah SWT, sambil menengadahkan kedua belah tangannya ke langit. “Ya Allah berilah kami rezeki, karena engkaulah sang Maha Pemberi Rezeki.”

Allah Maha Mendengar, doa Nabi Isa itu dikabulkan. Allah Berfirman, “Sesungguhnya aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tapi barang siapa diantara kamu kafir sesudah hidangan itu aku turunkan, aku akan menyiksa dengan siksaan  yang belum pernah aku turunkan kepada siapapun di antara umat manusia.” Benar Allah menurunkan hidangan dari langit, hidangan itu begitu mewah, lezat dan berlimpah, dengan aroma yang mengundang selera. Lezatnya tak tertandingi oleh makanan apapun yang ada di bumi. Mereka pun makan sepuas-puasnya, sambil bersyukur atas hidangan tersebut, keimanan mereka juga semakin bertambah.

Di tempat persembunyiannya, Nabi Isa AS bersama muridnya Kaum Hawariyun, sehingga umat Nabi Isa semakin bertambah banyak. Sampai pada suatu hari, tiba2 tempat persembunyian Nabi Isa dan para pengikutnya ketahuan dan dikepung oleh tentara Romawi. Mereka ketakutan dan melarikan diri menjauhi Nabi Isa, termasuk Kaum Hawariyun yang jumlahnya hanya 11 orang itu. Mereka menyelamatkan diri entah kemana. Nabi Isa pun tinggal sendirian. Dalam situasi sangat kritis dan berbahaya itulah, Allah SWT me wafatkan lalu mengangkat Nabi Isa AS ke surga.

Penemuan tempat persembunyian Nabi Isa itu tiada lain akibat ulah Yahuda alias Yudas Iskariot, yang termasuk salah satu murid  Nabi Isa sendiri. Rupanya Yahuda lebih tergiur oleh iming-iming hadiah yang ditawarkan oleh Kaisar Romawi, Herodes, daripada Iman dan takwa. Lalu berkhianat pada Nabi Isa AS & Allah. Yahuda melaporkan keberadaan Nabi Isa dan para muridnya kepada pendeta dan pemuka Bani Israel, ketika mereka sedang menyusun tuduhan palsu seolah-olah Nabi Isa akan melancarkan pemberontakan.

Tapi, ketika tentara Romawi mengepung tempat persembunyian tersebut, ternyata Nabi Isa sudah tidak ada, karena sudah diangakat oleh Allah SWT ke surga. Maka pasukan Romawi pun mencurigai seorang lelaki yang ada di sekitar tempat persembunyian tersebut, yang wajahnya oleh Allah SWT dibuat mirip dengan Nabi Isa AS. Dia tiada lain adalah Yahuda, sang pengkhianat itu. Tak pelak, Yahuda pun ditangkap dan disalib beramai-ramai oleh tentara Romawi, setelah sebelumnya diarak keliling kota dengan stempel sebagai Nabi Palsu.

Namun sebagian orang “menganggap bahwa di salib adalah Nabi Isa AS”

Enam tahun kemudian, ibunda Nabi Isa AS. Maryam, wafat. Akan halnya para murid setia Nabi Isa, yaitu kaum Hawariyun, mereka hidup sembunyi2, tapi tetap berdakwah.

Belakangan mereka berpencar ke seantero negeri di sekitar Palestina. Mereka inilah yang kemudian menuliskan “INJIL” sesuai dengan ingatan mereka masing2, sehingga kemudian dikenal berbagai versi Injil, seperti Injil Matheus, Injil Yohannes, Injil Lukas, Injil Markus. Sementara Kitab Injil yang diterima oleh Nabi Isa AS dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril di bukit Zaitun, diyakini raib ketika Nabi Isa “Diangkat” oleh Allah SWT ke Surga.

Padahal bersamaan di angkatnya Nabi Isa AS naik ke atas Surga, di angkat pula kitab Injil yang di wahyukan kepada Nabi Isa AS, karena ajarannya di putar balikkan oleh kaum Yahudi Bani Israel.

Menurut pandangan dan ajaran Islam, Nabi Isa AS tidak disalib, melainkan diangkat oleh Allah SWT ke Surga. Sementara yang disalib sebenarnya adalah sang pengkhianat, Yahuda alias Yudas Iskariot.

Masa kenabian Isa AS sangat singkat, hanya lima tahun. Tapi, bahkan Allah sendiri sangat menghormatinya, dengan menjulukinya sebagai Ruhulquddus, yaitu Roh Allah yang kudus, suci.

Sumber : http://sejarah.kompasiana.com

Wednesday, August 6, 2014

Lagu Derry Sulaiman – Dunia Sementara Akhirat Selamanya

Unknown     4:11 PM    

Wahai Manusia.. 
Jangan Engkau Tertipu Daya 
Oleh Dunia Yang Fana 
Sebagai Tempat Ujian Bagi Kita 

Dunia Sementara 
Akhirat Selama-Lamanya 

Orang Kaya Mati 
Orang Miskin Mati 
Raja-Raja Mati 
Rakyat Biasa Mati 

Semua Pergi Menghadap Ilahi
 Dunia Yang Dicari 
Tak Ada Yang Berarti 
Takkan Dibawa Mati

lirik lagu ini dapat dilihat di http://liriklaguku.org/lirik-lagu-derry-sulaiman-dunia-sementara-akhirat-selamanya/ | Lirik Laguku
Mau download lagu klik Unduh

atau Mau nonton nih....


Friday, July 25, 2014

Pembatal puasa

Unknown     2:27 PM    

Niat Mengqadha Puasa Ramadhan

Unknown     1:54 PM    
Bagi Anda yang batal atau karena sesuatu hal tidak bisa melaksanakan puasa Ramadhan pada waktunya, maka wajb mengqadha puasa tersebut pada bulan lain setelah Ramadhan.
Untuk masalah niat, tidak ada perbedaan yang terlalu jauh antara niat puasa Ramadhan yang dikerjakan pada waktunya dengan niat qadha puasa Ramadhan.  Kedua macam niat puasa tersebut, tetap dikerjakan di dalam hati dengan batas waktu niat adalah dari waktu maghrib tiba sampai sebelum waktu subuh tiba.
Yang berbeda hanya dari lafadz niat, apabila kita menyertai niat dalam hati kita dengan bacaan niat melalui lisan.  Hal ini boleh-boleh saja untuk membantu hati kita lebih fokus dengan apa yang kita niatkan.
Adapun lafadz niat qadha puasa Ramadhan, sebetulnya tidak ada ketentuan khusus secara redaksional dalam ilmu fiqih,  harus lafadz ini atau lafadz itu. Namun, lafadz niat yang umum yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى
Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaa-i fardhi ramadhaana lillaahi ta'aalaa 
Aku niat puasa esok hari karena mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala 

sumber :  http://belajar-fiqih.blogspot.com/2013/08/niat-qadha-puasa-ramadhan.html 

Thursday, July 10, 2014

Jawaban Saat Idul Fitri

Unknown     8:44 AM    
     Nah, saat orang lain memberi ucapan selamat pada saat Idul Fitri kita harus pahami apa dulu makasud atau arti dari ucapan tersebut......

contoh                  : "Taqabbalallahu minnaa wa minkum shiyamana wa shiyamakum"
                               ( "Semoga Allah menerima puasa kita dan puasa kalian" )

maka jawabanya  : "Taqabbal yaa kharim, amin"
                               ( "Terimalah Yang Maha Mulia, Terimalah do'a kami" )

dan lebih bagus semunya mengucapkan "amin....." ( "Terimalah do'a kami" ) karena doa untuk semuanya

banyak terjadi kesalahan dalam menjawab ucapan Idul Fitri, saat oranglain mengucpakan "minal ‘aidin wal faizin", malah dikira minta maaf jadi jawabanya "sama-sama", padahal artinya “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.”, maka jawaban yang benar adalah amin......

Ucapan Idul Fitri Sesuai Ajaran Rasulullah

Unknown     7:54 AM    
Di Indonesia setiap hari Lebaran (Idul Fitri) tiba semua orang mengucapkan selamat dengan bermacam-macam cara.

Nah, bagaimana yang dilakukan Nabi? Hampir semua ucapan yang beredar tidak ada riwayatnya kepada Rasulullah kecuali ucapan: Taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya, “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.” Maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.

Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[Fathul Bari 2/446] : “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya) : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kita dan dari kalian )”.Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka.

Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.

Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri adalah salah satu ungkapan yang seringkali diucapkan pada hari raya fithri. Sama sekali tidak bersumber dari sunnah nabi, melainkan merupakan ‘urf (kebiasaan) yang ada di suatu masyarakat, dalam hal ini ya di Indonesia saja.Sering kali kita salah kaprah mengartikan ucapan tersebut, karena biasanya diikuti dengan “mohon maaf lahir dan batin”. Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu artinya mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti sesungguhnya bukan itu. Kata minal aidin wal faizin itu sebenarnya sebuah ungkapan harapan atau doa. Tapi masih ada penggalan yang terlewat. Seharusnya lafadz lengkapnya adalah ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang).

Sedangkan Makna Minal `Aidin wal Faizin menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dari buku Lentera Hati“Minal `aidin wal faizin,” demikian harapan dan doa yang kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai tolan pada Idul Fitri. Apakah yang dimaksud dengan ucapan ini ? Sayang, kita tidak dapat merujuk kepadaAl-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata `aidin, karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun dari segi bahasa, minal `aidin berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.” Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”.

Setelah mengasah dan mengasuh jiwa – yaitu berpuasa – selama satu bulan, diharapkan setiap Muslim dapat kembali ke asal kejadiannya dengan menemukan “jati dirinya”, yaitu kembali suci sebagai mana ketika ia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar. Ini semua menuntut keserasian hubungan, karena – menurut Rasulullah – al-aidin al-mu’amalah, yakni keserasian dengan sesama manusia, lingkungan, dan alam.

Sementara itu, al-faizin diambil dari kata fawz yang berarti “keberuntungan” . Apakah “keberuntungan” yang kita harapkan itu Di sini kita dapat merujuk pada Al-Quran, karena 29 kali kata tersebut, dalam berbagai bentuknya, terulang. Menarik juga untuk diketengahkan bahwa Al-Quran hanya sekali menggunakan bentuk afuzu (saya beruntung). Itupun menggambarkan ucapan orang-orang munafik yang memahami “keberuntungan” sebagai keberuntungan yang bersifat material (baca QS 4:73)Bila kita telusuri Al-Quran yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang menggunakan kata fawz, ditemukan bahwa seluruhnya (kecuali QS 4:73) mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi.” Kalau demikian halnya, wal faizin harus dipahami dalam arti harapan dan doa, yaitu semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita semua mendapatkan kenikmatan surga-Nya.

Salah satu syarat untuk memperoleh anugerah tersebut ditegaskan oleh Al-Quran dalam surah An-Nur ayat 22, yang menurut sejarah turunnya berkaitan dengan kasus Abubakar r.a. dengan salah seorang yang ikutambil bagian dalam menyebarkan gosip terhadap putrinya sekaligus istri Nabi, Aisyah. Begitu marahnya Abubakar sehingga ia bersumpah untuk tidak memaafkan dan tidak memberi bantuan apapun kepadanya.

Tuhan memberi petunjuk dalam ayat tersebut: Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 24:22).Marilah kita saling berlapang dada, mengulurkan tangan dan saling mengucapkan minal `aidin wal faizin. semoga kita dapat kembali mendapatkan jati diri kita semoga kita bersama memperoleh ampunan,ridha, dan kenikmatan surgawi. Amin.

Sumber : http://deltapapa.wordpress.com/2008/09/19/ucapan-idul-fitri-sesuai-rasulullah/

Wednesday, July 9, 2014

Lagu Idul Fitri "Tasya"

Unknown     6:27 AM    
Setelah berpuasa satu bulan lamanya
Berzakat fitrah menurut perintah agama
Kini kita beridul fitri berbahagia
Mari kita berlebaran bersuka gembira

Berjabatan tangan sambil bermaaf - maafan
Hilang dendam habis marah di hari lebaran
Berjabatan tangan sambil bermaaf - maafan
Hilang dendam habis marah di hari lebaran

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Mama papa minal adzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Adik, kakak maafin tasya ya?
Nenek, kakek, saudara - saudara
Minal aidzin
Teman - teman, ibu bapak guru,
tetangga, minal aidzin
Pak RT, Bu RT, Pak Satpam
Semuanya deh minal aidzin

Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakainan baru serba indah
Setahun sekali ke kota naik bis kerek
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore

Akibatnya tenteng slop sepatu teropeh
Kakinya pada lecet babak belur berabe

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

di nyanyikan oleh : Tasya
Jika ingin download lagu ini klik Download
Sumber : http://lirik.kapanlagi.com/artis/tasya/idul_fitri

Wednesday, July 2, 2014

Kultum Ramadhan Jum'at Tanggal 25 juli 2014 / 28 Ramadhan 1435

Unknown     7:25 AM    
Hadrin hadirat rahima kumullah

Setiap manusia berada dalam kelebihan dan kekurangan, kebenaraan dan kesalahan, kebaikan dan kejahatan, keberanian dan ketakutan, kehabatan dan kelemahan, kejujuran dan kebohongan, kecerdasan dan kebodohan, ketaqwaan dan kekafiran, kehudzonan dan kesuuzunan, ketinggian dan kependekan, kemancungan dan kepensekkan, kegendutan dan  kepeotan maaf bercanda, tetapi kita harus menyikapi semua itu dengan menjadi manusia yang terbaik di hadapan Alloh dan Rasulnya.
Dengan cara apa ? dengan cara, kita bekerjasama dengan hati kita, agar hati kita selamat dalam kondisi yang benar dan cinta kepada Allah dan Rasulullah, agar hati kita meberikan stimulus – stimulus, perintah - perintah yang benar pada organ yang lainya, jangan sampai hati kita dalam kodisi yang salah

Sebagaimana hadis nabi

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا
فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati.” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Hati adalah panglima,yang mengatur tentara tentaranya.Ia memerintah anggota tubuh lainnya untuk berbuat atau tak berbuat sesuatu.karena itulah syetan tak pernah menyerang tentara. Untuk menguasai manusia cukuplah syetan menyerang panglimanya.Syetan tak pernah menyerang tangan kita, kaki kita,mata kita,telinga kita dan semua anggota badan kita.Untuk menguasai kita cukuplah syetan menguasai hati kita,maka seluruh hidup kita akan tunduk kemauan syetan.

dan imam ghazali berpesan kepada kita :
“Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.”

 Menurut syeikh abdul qodir Al -Jailani
“Selama hidup di dunia ini, yang terbaik adalah menyelamatkan hati dari buruk sangka.”

Hati kita ini bukan saja harus selamat dari buruk sangka tetapi hati kita harus kuat dan harus bijak
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba hanyalah mampu melalui tahapan-tahapan perjalanan menuju (ridha) Allah dengan hati dan keinginan yang kuat, bukan (cuma sekedar) dengan (perbuatan) anggota badannya. Dan takwa yang hakiki adalah takwa (dalam) hati dan bukan takwa (pada) anggota badan (saja).”

 Dan menurut Cicero
“Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebijakan yang terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebijakan yang lain”

Salah satu bentuk hati bijak yang penuh syukur
Sebagimana sabda Nabi Muhammad Saw :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَة قَلَ قَلَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةَ الْعَرَضِ وَلكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Dari Abu Hurairah ra katanya
Rasulullah saw bersabda : "Kaya itu bukan kerana banyak harta
melainkan kaya (yang sebenarnya) ialah kaya hati (cukup yang ada).”
Hadis sahih riwayat Muslim

Hadrin hadirat rahima kumullah

 Ada salah satu sahabat nabi Muhammad Saw., yang  juga masih keluarga dengan Nabi, yang patut kita contoh kerendahan hatinya dan prilakunya, merupakan putera dari Abu Thalib (paman dari nabi Muhammad Saw.). bahkan ia memiliki kemiripan jasmani dan perangainya dengan Rasulullah Saw. Ia seorang yang gagah, tampan, berwibawa. Warna kulitnya yang cerah bercahaya, kelemah-lembutannya yang sopan santun, kebaikannya yang rendah hati dan kasih sayang, serta kebersihan hidup dan kesucian jiwanya, tak lain dan tak bukan yaitu Ja’far bin abi thalib,yang diberi gelar oleh Rasulullah Saw. “bapak si miskin”

 Hadrin hadirat rahima kumullah
 Dan ingat bahwasanya mata, mulut, telinga,  kaki, tangan, semua anggota badan kita, bahkan hati kita akan diminta pertanggung jawabanya kelak dihari kiamat.

Sebagaimana Allah Swt. Berfirman :

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawaban-nya." (QS.17:36)

 Mari berusaha membersihkan hati kita, semampu kita. Sedikit demi sedikit, anak tangga demi anak tangga, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sekilan demi sekilan, secenti demi secenti, 2 centi demi 2 centi, 3 centi demi 3, 4 centi demi 4 centi, 5 centi demi 5 centi. Agar hati kita dalam keadaan yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Kami atas nama nama keluaraga dan DKM masjid sunan kalijaga mengucapkan ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidzin wal faizin Taqabbalallahu minnaa wa minkum shiyamana wa shiyamakum.walafuwu mingkum fil dhohir wal batin.

Hadrin hadirat rahima kumullah

Barangkali dalam penyampaian pidato saya terlalu cepat ikhwanifillah wa akhwatillah bisa membaca disitus ahmadjalaluddinrabbany.blogspot.com

Sebelum saya akhiri :

Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

 Ada kata mutiara dari Abuya Ashaari Muhammad :
“Tanda seorang yang mempunyai hati yang hidup yakni tidak buta ialah dia senantiasa merasai diawasi oleh Allah”

Kisah Shabat Nabi Umar Bin Khatab

Unknown     7:19 AM    
1. Keimanan, keberagamaan, dan ketakwaan Umar
Umar telah mencapai puncak tertinggi dalam hal keimanan dan ketaqwaan, dalam ibadah dan ketaatan. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah mendapat sebuah mimpi yang menakjubkan tentangnya. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Saat saya sedang tidur, saya melihat orang-orang dihadapkan padaku. Mereka semua memakai gamis, ada yang sebatas dada dan ada yang lebih rendah dari itu. Lalu dihadapkan kepadaku Umar bin Khaththab, dia menggunakan gamis yang terjurai.” Orang-orang lalu bertanya, “Bagaimana engkau menafsirkan mimpimu wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “(Pakaian itu melambangkan) Agama.”

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menggambarkan dengan sebuah kalimat pendek bagaimana Umar telah mencapai tingkat keberagamaan yang tinggi, sehingga keimanan benar-benar melekat kuat pada dirinya.

Suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam melihat Umar mendekat padanya. Beliau berkata, “Ketahuilah Wahai Ibnu Khaththab, demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh tak ada setan yang berpapasan denganmu di suatu jalan melainkan setan tersebut akan berpaling ke jalan lain untuk menghindar dari jalanmu.”

Para setan saja lari menghindari sosok mukmin yang hebat ini. Setan merasa putus asa atasnya karena tindakan-tindakannya senantiasa dilaksanakan pada tekad yang kuat. Jika dia berbicara, bicaranya benar, jika mengimani sesuatu, imannya mantap. Dia tidak suka membicarakan hal yang tidak berguna, tidak suka melakukan perbuatan yang mungkar. Tepat apa yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib mengenai Umar, “Kami para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tidak ragu behwa ketenangan itu diucapkan melalui lisan Umar.”

Abdullah bin Syaddad menceritakan tentang kekhusyukan Umar. Dia berkata, “Saya mendengar isak tangis Umar Radiyallahu ‘Anhu meski saya berada pada shaf yang paling akhir pada saat shalat subuh. Waktu itu dia membaca surat Yusuf, hingga sampai ayat, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf [12]: 86).

Sedangkan Ubaid bin Umar mengatakan, “Umar bin Khaththab mengimami kami shalat Subuh, maka dia membaca surat Yusuf hingga samapi ayat, “Kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dan diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya)” (QS. Yusuf [12]: 84). Dia lalu menangis dan tidak sanggup melanjutkan bacaannya, maka dia pun langsung ruku’.”

Umar suka melakukan shalat di saat larut malam. Salah seorang istrinya menceritakan, “Waktu itu dia shalat Isya, kemudian dia menyuruh meletakkan bejana kecil yang berisi air di arah kepalanya. Ketika dia bangun pada malam hari, dia meletakkan tangannya di air, lalu mengusapkannya pada wajahnya. Kemudian dia berdzikir pada Allah. Dia terbangun beberapa kali, sampai kemudian tiba saat dia bangun untuk mengerjakan shalat.”

Jika pulang ke rumah, dia selalu membuka mushaf dan membacanya. Terkadang dia mengundang Abu Musa Al-Asy’ari, shahabat yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik dan indah, lalu berkata padanya, “Ingatkan kami pada Tuhan kami Subhanahu wa Ta’ala.” Maka Abu Musa pun membacakan Al-Qur’an untuknya.

Di samping itu Umar senantiasa berpuasa sepanjang tahun. Pada masa kekhalifahannya dia memimpin pelaksanaan haji sepuluh kali berturut-turut.
Mengenai kedermawanannya, pembantunya Aslam mengatakan, “Saya tidak melihat seorang pun setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam yang lebih dermawan sampai akhir hayatnya melebihi Umar bin Khaththab.”

Kezuhudannya juga luar biasa. Muawwiyah menggambarkannya dengan sangat indah. Dia berkata, “Adapun Abu Bakar, dia tidak menginginkan dunia dan dunia pun tak menginginkannya. Sedangkan Umar, dunia menginginkannya sementara dia tidak menginginkan dunia.”

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Umar tidak mendahului kami dalam berhijrah, tapi saya tahu satu hal yang membuatnya melebihi kami, dia orang yang paling zuhud terhadap dunia di antara kami semua.”

Ketika Umar Al-Faruq sedang menghadapi masa-masa kritis menjelang wafatnya, beberapa orang shahabatnya duduk di dekatnya, memuji apa yang telah dipersembahkannya untuk Islam. Pada kesempatan tersebut Umar justru berkata, “Demi Allah, kalau saya memiliki segunung emas, pasti akan saya gunakan untuk menebus diri saya dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum saya menemui-Nya.”

Umar juga kerap mengulang-ngulang ucapan berikut ini saat berkumpul bersama para shahabatnya, “Kalau ada seruan dari langit mengatakan, “Wahai sekalian manusia, kalian semua akan masuk surga kecuali satu orang,” saya pasti sangat takut kalau-kalau orang itu ternyata saya. Kalau ada seruan mengatakan, “Wahai sekalian manusia, kalian semua akan masuk neraka kecuali satu orang,” saya pasti sangat berharap orang itu adalah saya.”

Suatu kali dia sedang melaksanakan thawaf mengelilingi ka’bah. Dia memanjatkan do’Ali berikut, “Ya Allah, jika Engkau menuliskan aku dalam kebahagian, tetapkanlah aku di sana. Jika Engkau menuliskanku dalam kesengsaraan hapuslah aku darinya dan tetapkanlah aku dalam kebahagiaan. Sesungguhnya Engkau menghapus dan menetapkan apapun yang Enggkau kehendaki dan di sisimulah Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).

2. Ucapannya yang benar dan kesesuaiannya
Di antara sifat Umar bin Khaththab yang membuatnya berbeda dari yang lain adalah ucapannya yang benar, dia tidak pernah takut terhadap celaan orang dalam menyampaikan kebenaran. Bahkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah mengatakan tentang hal tersebut. “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kebenaran melekat pada lisan dan hati Umar.”

Umar telah mendampingi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada masa itu banyak wahyu yang turun, Rasulullah pun menyampaikannya pada semua orang, mengajari mereka, dan memberi penjelasan. Di samping itu terjadi berbagai peristiwa, muncul banyak persoalan, yang kadang membutuhkan pendapat para shahabat. Dalam hal ini Umar kerap memberi sumbangan pemikiran, lalu datang wahyu mendukung pemikiran tersebut. Bahkan Umar sering menginginkan sesuatu berubah, menganggap baik beberapa hal lain, berharap terjadi sesuatu, lalu wahyu pun turun sesuai dengan apa yang dibicarakan atau diinginkan oleh Umar.

Inilah nikmat luar biasa yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Umar. Rasulullah menjelaskan hal tersebutdengan sabdanya, “Pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang ucapannya selalu sejalan dengan kebenaran, apa-apa yang dipikirkannya seringkali terjadi karena dia mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika di antara umatku ada yang seperti itu, maka Umar adalah salah satunya.”

Umar sendiri menceritakan, “Saya mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam tiga hal. Saya pernah berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?” maka turun ayat, “Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.”(QS. Al-Baqarah [2]: 125). Lalu saya pernah menyarankan, “Bagaimana jika engkau perintahkan para ummul mukminin menggunakan hijab?” maka Allah menurunkan ayat hijab. Kemudian suatu saat saya mendengar keluhan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam atas sebagian istrinya, maka saya pun menemui mereka dan mengatakan, “Berhentilah kalian mengeluh atau Allah akan mengganti kalian untuk Rasulullah dengan yang lebih baik dari kalian.” Saat aku mengatakan hal itu pada salah satu istri beliau, dia menjawab, “Wahai Umar, tidakkah ada pada Rasulullah nasihat untuk istri-istrinya, hingga engkau yang menasehati mereka?” Maka Allah menurunkan ayat, “Boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh.” (QS. At-Tahrim [66]: 5).

Di antara pandangan Umar juga, hendaknya orang munafik itu tidak boleh dishalatkan ketika meninggal dunia, karena mereka telah menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka pun telah melampaui batas dalam kemunafikannya. Maka turun ayat yang menyatakan hal tersebut.

Umar menceritakan, “Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam diminta untuk menshalatinya. Pada saat beliau telah berdiri untuk menshalati, saya mendekati beliau dan berbisik padanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menasehati Ibnu Ubay, sementara pada waktu itu dia berkata begini-begitu?” saya pun menyebutkan beberapa ucapannya pada Rasulullah. Beliau lalu tersenyum dan berkata, “Mundurlah hai Umar.”  Namun saya terus berusaha menjelaskan, sampai akhirnya beliau berkata, “Saya diberi pilihan, maka saya harus memilih. Seandainya saya tahu bahwa jika saya memintakan ampunan kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali  dia akan diampuni, pasti saya akan lebihkan!”

Umar melanjutkan ceritanya, “Maka Rasulullah pun akhirnya menshalati Abdullah bin Ubay. Setelah selesai beliau pun pergi, tak lama berselang turun dua ayat dari surat Bara’ah (At-Taubah), “Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan shalat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”(QS. At-Taubah [9]: 84). Setelah itu baru saya terperengah mengingat betapa beraninya saya tadi mempengaruhi Rasulullah. Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Umar juga pernah memendam keinginan agar khamar diharamkan. Dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang tuntas.” Maka Allah pun menurunkan ayat tentang pengharaman khamar.
Termasuk juga turunnya ayat yang memperkuat pendapatnya terkait tawanan perang Badar dan berbagai situasi lainnya yang jumlahnya cukup banyak.

3. Ketegasan Umar dalam membela kebenaran
Jika sebelum menyatakan keislamannya Umar terkenal sebagai sosok yang keras menentang Islam, maka setelah masuk Islam Umar menjelma menjadi sosok yang keras dalam membela Islam. Dia berusaha menampakkan kemuliaan Islam dan kaum muslimin sejelas mungkin. Maka kekuatannya yang luar biasa itu berubah menjadi sesuatu yang menguntungkan kaum muslimin, sehingga Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menggambarkan dalam sabdanya, “Umatku yang paling penyayang terhadap umatku adalah Abu Bakar dan yang paling keras di antara mereka dalam membela agama Allah adalah Umar.”

Suatu ketika Abu Sufyan bin Harb datang ke Madinah dengan tergesah-gesah untuk meminta maaf atas nama Quraisy atas pelanggaran yang mereka lakukan terhadap perjanjian Hudaibiyah, sekaligus ingin memperkuat kembali akad perjanjian tersebut dan memperpanjang masa berlakunya. Dia berusaha melobi beberapa shahabat, namun tidak mendapat respon yang positif. Ketika dia mencoba melobi Umar untuk memberinya dukungan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Umar justru mencelanya, “Aku merekomendasikan kalian pada Rasulullah? Demi Allah, kalaulah saya tidak mendapatkan selain seekor semut kecil, pasti telah kuperangi kalian dengannya!”

Maksudnya adalah firman Allah Ta’ala, “(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohon ampunan bagi mereka…” (QS. At-Taubah [9]: 80)

Umar melanjutkan kata-katanya, “Apa yang baru dari perjanjian kita telah dijadikan usang oleh Allah, apa yang kuat telah diputus-Nya, apa yang terputus takkan disambung-Nya kembali.”

Kerasnya sikap Umar dan kewibawaannya menembus ke dalam hati setiap orang. Bahkan di kalangan para shahabatnya sendiri Umar sangat disegani. Sa’ad bin Abi Waqqash menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di rumah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

“Pada suatu ketika Umar bin Khaththab pernah meminta izin untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, saat itu ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara dengan beliau secara panjang lebar dan dengan suara yang lantang. Setelah Umar meminta izin untuk masuk, maka kaum wanita itu segera berdiri dan bersembunyi dibalik tirai (hijab). Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mempersilahkan Umar masuk sambil tersenyum-senyum, Umar berkata, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Hai Umar, sebenarnya aku sendiri merasa heran dengan kaum wanita yang berada bersamaku tadi. Karena, ketika mereka mendengar suaramu, mereka segera bersembunyi.” Umar berkata, “Sebenarnya engkaulah yang lebih berhak mereka segani.” Kemudia Umar menoleh ke tabir tempat para wanita itu bersembunyi dan berkata, “Hai orang-orang yang menjadi musuhnya sendiri, apakah kalian merasa segan kepadaku dan tidak segan kepada Rasulullah?” Kaum wanita Quraisy itu pun menjawab, “Ya, karena engkau lebih keras dari Rasulullah!” Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada digenggaman-Nya, sungguh tak ada setan yang berpapasan denganmu di suatu jalan wahai Umar, melainkan setan tersebut akan beroaling ke jalan lain untuk menghindar dari jalanmu.”

Karakter keras yang dimiliki oleh sososk Umar serta ketegasannya dalam berpendapat tidaklah sampai kelewat batas atau melanggar kebenaran seujung jaripun, akan tetapi dia akan segera berhenti dari keinginannya.”

Bilal bin Rabah pernah bertanya pada Aslam, pembantu Umar, “Bagaiman pendapat kalian tentang Umar?” Jawab Aslam, “Dia sebaik-baik manusia, kecuali jika dia marah, menjadi masalah besar!” Bilal pun berkata, “Jika saya sedang berada di dekatnya saat dia marah, saya bacakan Al-Qur’an sampai marahnya redah.”

Malikud-Dar, pembantu Umar yang lain mengatakan, “Suatu hari Umar membentak saya dan memukul saya dengan cambuk, saya katakan padanya, “Saya ingatkan engkau dengan Allah!” Umar langsung melemparkan cambuknya dan berkata, “Sungguh engkau telah mengingatkanku dengan sesuatu yang besar.”

4. Keilmuan Umar dan hadits yang diriwayatkannya serta orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya
Umar diberi oleh Allah kepintaran yang luar biasa. Dia merupakan salah satu ulama besar di kalangan shahabat. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sempat memuji nikmat yang diberikan oleh Allah pada Umar ini dan mengingatkan para shahabat tentang nikmat tersebut agar mereka menyerapnya dari Umar. Beliau bersabda, “Ketika tidur, saya bermimpi diberi segelas susu. Saya pun meminumnya hingga saya merasakan kesegaran sampai ke ujung kuku. Kemudian sisa susu tersebut kepada Umar bin Khaththab.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa takwil mimpi tersebut?” Jawab Rasulullah, “Itu tentang ilmu.”

Umar selalu berusaha untuk dapat hadir dalam majlis ilmu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Tidak satupun yang luput darinya. Umar menceritakan hal tersebut, “Dulu saya dan tetangga saya dari kaum Anshar tinggal di komplek Bani Umayyah bin Zaid, di pinggir kota Madinah. Kami bergantian dalam menghadiri majlis ilmu Rasulullah. Sehari dia yang hadir, sehari kemudian saya yang hadir. Jika saya yang hadir, saya akan menyampaikan kepadanya. Jika dia yang hadir, dia pun melakukan hal yang sama.”

Abdullah bin Mas’ud menggambarkan betapa tingginya tingkat keilmuan Umar pada hari wafatnya Umar. Dia berkata, “Seandainya ilmu Umar diletakkan di satu sisi timbangan dan sisi lainnya diisi dengan ilmu semua orang di muka bumi ini, pasti ilmu Umar lebih berat dari ilmu mereka. Menurut mereka Umar memperoleh sembilan dari sepuluh ilmu. Aku lebih percaya pada majelis yang kuhadiri bersama Umar daripada pekerjaan yang kulakukan selam setahun.”

Hudzaifah bin Yaman mengatakan, “Seakan-akan ilmu seorang itu menyelinap ke dalam hati Umar.”

Di antara shahabat yang meriwayatkan ilmu darinya adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, putranya Abdullah bin Umar, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Amr bin Ash, Ibnu Abbas, Muawiyah bin Abi Sufyan, Adi bin Hatim, Zaid bin Tsabit, Ibnu Zubair, Abu Musa Al-Asy’ari, Abu Hurairah, Ummul mukminin Aisyah, putrinya Hafshah, dan yang lain. Sedangkan dari kalangan tabiin tak terbilang banyaknya.

5. Termasuk Ahli Surga
Cukup banyak kabar gembira yang tercantum dalam berbagai hadits shahih yang menyatakan bahwa Umar merupakan salah satu shahabat yang memperoleh jaminan surga.

Pada suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sedang duduk berbincang bersama para shahabatnya, beliau pun bersabda, “Ketika saya sedang tidur, saya bermimpi bahwa saya sedang berada di surga. Tiba-tiba ada seorang perempuan berwudlu di samping sebuah istana. Saya bertanya padanya, “Istana siapa ini? Dia menjawab, “Milik Umar.” Lantas saya teringat akan sifat cemburu Umar, saya pun segera pergi dari sana.” Umar yang saat itu berada bersama Rasulullah menangis. Kemudian dia berkata, “Bagaimana mungkin saya cemburu kepada engkau wahai Rasulullah.”

Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, “Waktu saya sedang bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam di sebuah kebun di Madinah, tiba-tiba datang seseorang meminta dibukakan pintu. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga.” Saya lalu membukakan pintu untuk orang itu dan orang itu ternyata Abu Bakar. Saya pun menyampaikan kabar gembira dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Abu Bakar langsung mengucap hamdalah. Tak lama kemudian datang lagi seseorang yang meminta dibukakan pintu.  Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga.” Saya lalu membukakan pintu untuk orang itu dan orang itu ternyata Umar. Saya pun menyampaikan kabar gembira dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Umar langsung mengucapkan hamdalah.”

Sementar Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, “Dua orang ini merupakan pemuka orang-orang dewasa di kalangan ahli surga dari generasi pertama sampai terakhir, kecuali para Nabi dan Rasul. Jangan kau beritahu mereka wahai Ali.”

6. Kedudukannya di mata Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan para sahabat
Di mata Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabatnya, Umar menempati posisi kedua setelah Abu Bakar Radiyallahu ‘Anhuma.

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Saya tidak tahu sampai kapan saya bersama kalian, Maka ikutilah dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.”

Bahkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah menjelaskan kedudukan Umar di sisinya dan di sisi umat Islam. Beliau amat meninggikan kedudukannya dari yang lalu-lalu ketika berkata, “Seandainya ada Nabi setelahku, pasti yang diangkat menjadi Nabi adalah Umar bin Khaththab!”

Di samping itu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sering mengatakan, “Waktu itu saya, Abu Bakar, dan Umar..”, “Saya, Abu Bakar, dan Umar melakukan…”, “Saya, Abu Bakar, dan Umar berangkat…” atau “Saya, Abu Bakar, dan Umar mengimani hal itu.”
Karena itu, Umar seolah-olah menempati posisi sebagai menteri kedua bagi Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam setelah Abu bakar. Kedua tokoh itu ibarat pendengaran dan penglihatan Nabi.

Para shahabat pun menempatkan Umar pada posisi tersebut. Mereka menghormati Umar sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menghormatinya. Mereka mempersilakan Umar menjadi imam shalat ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sedang sakit sementar Abu bakar tidak berada di masjid. Karena mereka tahu bahwa Umar adalah yang paling pantas di antara semua yang hadir waktu itu.

Bahkan Abu Bakar pernah mengumumkan pada semua orang, “Tidak ada orang yang paling saya cintai di muka bumi ini selain umar.”

Abdullah bin Umar mengatakan, “Dulu kami pada zaman Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tidak melihat ada yang menyamai Abu bakar, kemudia Umar, kemudian Utsman. Setelah itu kami tidak mencoba membanding-bandingkan para shahabat Rasulullah yang lain.”


Sumber : http://sahabatnabi.com/biografi-sahabat-nabi-umar-bin-khaththab-ketegasan-keimanan-dan-ketakwaan-umar/

Kultum Ramadhan Jum'at Tanggal 11 juli 2014 / 14 Ramadhan 1435

Unknown     7:15 AM    
Hadrin hadirat rahima kumullah
Setiap manusia mempunyai orang yang dicintai ataupun yang dibenci, tetapi yang harus kita dekati adalah muttaqin yaitu orang yang bertaqwa, walaupun orang tersebut yang di benci oleh kita
Sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“ Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS.2:216)

 imam syafii berpesan
"Setiap manusia memiliki orang yang dicintai dan dibenci, Tapi untukmu, jika ada berkumpulah dengan orang-orang yang bertakwa” (Imam Syafii)

Dan Rasullalloh Saw. bersabada tentang orang yang baik, yang selamat, yang merupakan sifat orang yang bertaqwa yang harus kita dekati agar kita meniru sifat tersebut.

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?”Beliau menjawab, “muslim yang selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir

Mari kita mengingat kembali biografi sahabat rasulullah Saw. tinggal buka diblog saya ahmadjalaluddinrabbany.blogspot.com, salah satunya sahabat rasulullah, umar bin khathab yang ketegsan, keimanan, ketaqwaanya sangat luarbiasa sampai suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam melihat Umar mendekat padanya. Beliau berkata, “Ketahuilah Wahai Ibnu Khaththab, demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh tak ada setan yang berpapasan denganmu di suatu jalan melainkan setan tersebut akan berpaling ke jalan lain untuk menghindar dari jalanmu.”
Ngomong – ngomong soal dunia maya pernah ada yang masuk dibbm saya, kurang lebihnya seperti ini kalau yang ngaku muhammadiyah puasanya sabtu kalau yang ngaku nu puasanya minggu kalau yang ngaku islam tapi islam ktp puasanya hari senin. kan dalam tanggalan hijriyah ga ada yang 31, yang puasanya hari senin termasuk orang yang meninggalkan puasa ramadhan hati-hati terkena azab, maaf yang ngerasa islam ktp.

Hadirin hadirat rahima kumullah
Ibu bu, pengen tau orangnya yang bertaqwa ………………?
Bapa pa, pengen tau orangnya yang bertaqwa ……………….?

Jika ibu dan bapa ingin tau orangnya yang bertaqwa tidak perlu jauh – jauh, jika keluarga ibu dan bapa ada di masjid ini Insya Alloh keluarga ibu dan bapa termasuk keluarga yang bertaqwa, karena melaksanakan ibadah itu merupakan suatu ketudukan kita, ketaqwaan kita kepada Alloh Swt apalagi melaksanakan ibadahnya dimasjid dan apalagi melaksanakannya tidak hanya dibulan ramadhan tetapi di bulan-bulan yang lainya karena kita tidak diperbolehkan untuk taat musiman, kalau masalah pahala dibulan yang lainpun bisa lebih besar dari pada melakasanakan ibadah dibulan ramadhan. Dan Imam Al Ghazali berkata menuntut ilmu adalah taqwa. Kita semua disini lagi ingin beribadah kepada Alloh dan menuntut ilmu Insya Alloh mudah - mudahan kita semua termasuk orang yang bertaqwa. Amin ya rabal alamin….


Pidato ini dibuat oleh saya sendiri mengkutip dari berbagai sumber

Translate

Instagram

Instagram
© 2011-2014 AJR. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.